Voice of Heart

Voices of Heart

Di sini aku dilahirkan, menghadapi berbagai percobaan yang membuat rongga dadaku kian tertekan.

Kami bukanlah orang-orang yang senantiasa duduk damai dalam mobil audi,

Atau hanya berdiam diri berpangku tangan menunggu datangnya rizki,

Pekerjaan melelahkan ini menjadi sebuah tuntutan, tentang bagaimana diri kami senantiasa melepas yang membebankan.

Walaupun bukan mosaic kaca tampak di atas kami, hanya ada awan putih yang beriringan, mencari irama memenuhi kententaram diri.

Bagi kami pekerjaan adalah sebuah tuntunan demi memenuhi peran sebagai manusia yang dikodratkan Tuhan.

Disini kami dapat melihat bagaimana mereka yang berharga melewati kami tanpa sapa,

Sebenarnya siapa kami di negeri ini?

Apakah kami hanya sebagai sumber komoditi dimana kepala negri ini akan menggunakannya untuk kepentingan pribadi?

Lalu bagaimana aspirasi kami?

Siang malam tidur terkungkung berharap agar masalah segera teratasi.

Kami tak meminta berlian yang memantulkan cahaya, karena kami tahu derajat kami bukan ada distrata yang nyata.

Tak ada pendidikan yang mendukung keberlangsungan hidup kami, maka dari itu orang-orang akan dengan mudahnya melecehkan harkat dan martabat kami. Bukan kami tidak ingin, justru itulah harapan rakyat kecil seperti kami, memiliki masa depan yang akan mengganti segala jerih payah hari ini.

 

Terkadang kami beristirahat sejenak melepas kepiluan yang mulai membenak, tapi bagaimanapun juga pikiran ini terus saja melayang ke arah yang kami inginkan, perubahan.

Tidak ada lagi kami yang tinggal di ruang beratapkan langit, karena saat terik matahari menyayat kulit, kami akan merasakan sangat sakit.

Bukan hanya sakit jasmani, namun seperti apa nurani kami menerima keadaan ini.

Tidak ada harapan untuk tertidur dalam sebuah anyaman bambu yang jika saat angin malam masuk, rasa dingin di tulang kami kian menusuk.

Sekarang kami paham, derajat itu bukanlah sesuatu yang tampak di penglihatan namun sejatinya ialah seperti apa Tuhan menilai yang dilakukan oleh ciptaann-Nya.

 

Bukanlah harta yang membuat kami bahagia, karena tanpa harta kami masih bisa tersenyum nyata.

Merengkuh segala asa, untuk menjalani hari-hari tanpa sepenggal duka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s